Kamis, 28 Agustus 2014

RINGKASAN SEJARAH INDONESIA BAB 1 (MENGENAL MANUSIA PURBA)

Standard




Mengamati lingkungan

Pernahkah kamu mendengar tentang Situs Manusia Purba Sangiran? Kini
Situs Manusia Purba Sangiran telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai
warisan budaya dunia, tentu ini sangat membanggakan bangsa Indonesia.
Pengakuan tersebut tentu didasari berbagai pertimbangan yang kompleks.
Satu di antaranya

karena di wilayah tersebut tersimpan ribuan peninggalan manusia purba
yang menunjukkan proses kehidupan manusia dari masa lalu. Sangiran telah
menjadi sentra kehidupan manusia purba. Berbagai penelitian dari para
ahli juga dilakukan di sekitar Sangiran.



Beberapa temuan fosil di Sangiran telah mendorong para ahli untuk terus
melakukan penelitian termasuk di luar Sangiran. Dari Sangiran kita
mengenal beberapa jenis manusia purba di Indonesia. Setelah ditetapkan
sebagai warisan dunia, Situs Manusia Purba Sangiran dikem bangkan
sebagai pusat penelitian dalam negeri dan luar negeri, serta sebagai
tempat wisata. Selain itu Sangiran juga memberi manfaat kepada
masyarakat di sekitarnya, karena pariwisata di daerah tersebut.

Untuk memahami jenis dan ciri-ciri manusia purba di Indonesia mari kita telaah bacaan berikut ini.



Memahami Teks

Peninggalan manusia purba untuk sementara ini yang paling banyak
ditemukan berada di Pulau Jawa. Meskipun di daerah lain tentu juga ada,
tetapi para peneliti belum berhasil menemukan tinggalan tersebut atau
masih sedikit yang berhasil ditemukan, misalnya di Flores. Di bawah ini
akan dipaparkan beberapa penemuan penting fosil manusia di beberapa
tempat.



1. Sangiran

Perjalanan kisah perkembangan manusia di dunia tidak dapat kita lepaskan
dari keberadaan bentangan luas perbukitan tandus yang berada
diperbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Lahan itu
dikenal dengan nama Situs Sangiran. Di dalam buku Harry Widianto dan
Truman Simanjuntak, Sangiran

Menjawab Dunia diterangkan bahwa Sangiran merupakan sebuah kompleks
situs manusia purba dari Kala Pleistosen yang paling lengkap dan paling
penting di Indonesia, dan bahkan di Asia. Lokasi tersebut merupakan
pusat perkembangan manusia dunia, yang memberikan petunjuk tentang
keberadaan manusia sejak 150.000 tahun yang lalu. Situs Sangiran itu
mempunyai luas delapan kilometer pada arah utara-selatan dan tujuh
kilometer arah timur-barat. Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa
yang berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di bagian
puncaknya. Kubah raksasa itu diwarnai dengan

perbukitan yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan tersingkapnya berbagai

lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil manusia purba dan binatang, termasuk artefak.



Berdasarkan materi tanahnya, Situs Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluviovolkanik,

tanahnya tidak subur dan terkesan gersang pada musim kemarau. Sangiran
pertama kali ditemukan oleh P.E.C. Schemulling tahun 1864, dengan
laporan penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, bagian dari wilayah
Sangiran. Semenjak dilaporkan Schemulling situs itu seolah-olah
terlupakan dalam waktu yang lama. Eugene

Dubois juga pernah datang ke Sangiran, akan tetapi ia kurang tertarik
dengan temuan-temuan di wilayah Sangiran. Pada 1934, G.H.R von
Koenigswald menemukan artefak litik di wilayah Ngebung yang terletak
sekitar dua km di barat laut kubah Sangiran. Artefak litik itulah yang
kemudian menjadi temuan penting bagi Situs Sangiran. Semenjak penemuan
von Koenigswald, Situs Sangiran menjadi sangat terkenal berkaitan dengan
penemuan-penemuan fosil Homo erectus secara sporadis dan
berkesinambungan. Homo erectus adalah takson paling penting dalam
sejarah manusia,sebelum masuk pada tahapan manusia Homo sapiens, manusia
modern.



Situs Sangiran tidak hanya memberikan gambaran tentang evolusi fisik
manusia saja, akan tetapi juga memberikan gambaran nyata tentang evolusi
budaya, binatang, dan juga lingkungan. Beberapa fosil yang ditemukan
dalam seri geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa terputus selama
lebih dari dua juta tahun,

menunjukan tentang hal itu. Situs Sangiran telah diakui sebagai salah
satu pusat evolusi manusia di dunia. Situs itu ditetapkan secara resmi
sebagai Warisan Dunia pada 1996, yang tercantum dalam nomor 593 Daftar
Warisan Dunia (World Heritage List) UNESCO.



Perhatikan baik-baik gambar fosil manusia purba di samping, fosil itu
juga disebut sebagai Sangiran 17 sesuai dengan nomor seri penemuannya.
Fosil itu merupakan fosil Homo erectus yang terbaik di Sangiran. Ia
ditemukan di endapan pasir fluvio-volkanik di Pucang, bagian wilayah
Sangiran. Fosil itu merupakan dua di

antara Homo erectus di dunia yang masih lengkap dengan mukanya. Satu ditemukan di Sangiran dan

satu lagi di Afrika.



2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur



Trinil adalah sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah
administrasi Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tinggalan purbakala telah
lebih dulu ditemukan di daerah ini jauh sebelum von Koenigswald
menemukan Sangiran pada 1934. Ekskavasi yang dilakukan oleh Eugene
Dubois di Trinil telah membawa penemuan sisa-sisa manusia purba yang
sangat berharga bagi dunia pengetahuan. Penggalian Dubois dilakukan pada
endapan alluvial Bengawan Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap
tengkorak Pithecanthropus erectus, dan beberapa buah tulang paha (utuh
dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.



Tengkorak Pithecanthropus erectus dari Trinil sangat pendek tetapi
memanjang ke belakang. Volume otaknya sekitar 900 cc, di antara otak
kera (600 cc) dan otak manusia modern (1.200-1.400cc). Tulang kening
sangat menonjol dan di bagian belakang mata, terdapat penyempitan yang
sangat jelas, menandakan otak yang belum berkembang. Pada bagian
belakang kepala terlihat bentuk yang meruncing yang diduga pemiliknya
merupakan perempuan. Berdasarkan kaburnya sambungan perekatan antar
tulang kepala, ditafsirkan inividu ini telah mencapai usia dewasa.
Selain tempat-tempat di atas, peninggalan manusia purba tipe ini juga
ditemukan di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa
Tengah; Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.



Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli, dapatlah
direkonstruksi beberapa jenis manusia purba yang pernah hidup di zaman
praaksara.



1. Jenis Meganthropus

Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian von Koenigswald
di Sangiran tahun 1936 dan 1941 yang menemukan fosil rahang manusia yang
berukuran besar. Dari hasil rekonstruksi ini kemudian para ahli
menamakan jenis manusia ini dengan sebutan Meganthropus paleojavanicus,
artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia purba ini memiliki ciri
rahang yang kuat dan badannya tegap.Diperkirakan makanan jenis manusia
ini adalah tumbuhtumbuhan. Masa hidupnya diperkirakan pada zaman
Pleistosen Awal.



2. Jenis Pithecanthropus

Jenis manusia ini didasarkan pada penelitian Eugene Dubois tahun 1890 di
dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, di wilayah Ngawi.
Setelah direkonstruksi terbentuk kerangka manusia, tetapi masih
terlihat tanda-tanda kera. Oleh karena itu jenis ini dinamakan
Pithecanthropus erectus, artinya manusia kera yang berjalan tegak.Jenis
ini juga ditemukan di Mojokerto, sehingga disebut Pithecanthropus

mojokertensis. Jenis manusia purba yang juga terkenal sebagai rumpun
Homo erectus ini paling banyak ditemukan di Indonesia. Diperkirakan
jenis manusia purba ini hidup dan berkembang sekitar zaman Pleistosen
Tengah.



3. Jenis Homo

Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh von Reitschoten di Wajak.
Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan dan
menyimpulkan sebagai jenis Homo. Ciri-ciri jenis manusia Homo ini muka
lebar, hidung dan mulutnya menonjol. Dahi juga masih menonjol, sekalipun
tidak semenonjol jenis Pithecanthropus. Bentuk fisiknya tidak jauh
berbeda dengan manusia sekarang. Hidup dan perkembangan jenis manusia
ini sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang lalu. Tempat-tempat penyebarannya
tidak hanya di Kepulauan Indonesia tetapi juga di Filipina dan Cina
Selatan. Homo sapiens artinya ‘manusia sempurna’

baik dari segi fisik, volume otak maupun postur badannya yang secara
umum tidak jauh berbeda dengan manusia modern. Kadang-kadang Homo
sapiens juga diartikan dengan ‘manusia bijak’ karena telah lebih maju
dalam berfikir dan menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah mereka muncul
ke bumi pertama kali dan kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai
penjuru dunia hingga saat ini? Para ahli paleoanthropologi dapat
melukiskan perbedaan morfologis antara Homo sapiens dengan pendahulunya,
Homo erectus.

Rangka Homo sapiens kurang kekar posturnya dibandingkan Homo erectus. Salah satu alasannya karena

tulang belulangnya tidak setebal dan sekompak Homoerectus.



Uraian mengenai jenis-jenis manusia ini selengkapnya dapat juga dibaca
pada buku Harry Widianto dan Truman Simanjuntak, Sangiran Menjawab
Dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa secara fisik Homo

sapiens jauh lebih lemah dibanding sang pendahulu tersebut. Di lain
pihak, ciri-ciri morfologis maupun biometriks Homo sapiens menunjukkan
karakter yang lebih berevolusi dan lebih modern dibandingkan dengan Homo
erectus. Sebagai misal, karakter evolutif yang paling signifikan adalah
bertambahnya

kapasitas otak. Homo sapiens mempunyai kapasitas otak yang jauh lebih
besar (rata-rata 1.400 cc), dengan atap tengkorak yang jauh lebih bundar
dan lebih tinggi dibandingkan dengan Homo erectus yang mempunyai
tengkorak panjang dan rendah, dengan kapasitas otak 1.000 cc. Segi-segi
morfologis dan tingkatan kepurbaannya menunjukkan ada perbedaan yang
sangat nyata antara kedua spesies dalam genus Homo tersebut. Homo
sapiens akhirnya tampil sebagai spesies yang sangat tangguh dalam
beradaptasi

dengan lingkungannya, dan dengan cepat menghuni berbagai permukaan dunia ini.



Berdasarkan bukti-bukti penemuan, sejauh ini manusia modern awal di
Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara paling tidak telah hadir sejak
45.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, kehidupan manusia modern
ini dapat dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu (i) kehidupan manusia
modern awal yang kehadirannya hingga akhir zaman es (sekitar 12.000
tahun lalu), kemudian dilanjutkan oleh (ii) kehidupan manusia modern
yang lebih belakangan, dan berdasarkan karakter fisiknya dikenal sebagai
ras Austromelanesoid. (iii) mulai di sekitar 4000 tahun lalu muncul
penghuni baru di Kepulauan Indonesia yang dikenal sebagai penutur bahasa
Austronesia. Berdasarkan karakter fisiknya, makhluk manusia ini
tergolong dalam ras Mongolid. Ras inilah yang kemudian berkembang hingga
menjadi bangsa Indonesia sekarang.



Beberapa spesimen (penggolongan) manusia Homo sapiens dapat dikelompokkan sebagai berikut,



a. Manusia Wajak

Manusia Wajak (Homo wajakensis) merupakan satu-satunya temuan di
Indonesia yang untuk sementara dapat disejajarkan perkembangannya dengan
manusia modern awal dari akhir Kala Pleistosen. Pada tahun 1889,
manusia Wajak ditemukan oleh B.D. van Rietschoten di sebuah ceruk di
lereng pegunungan karst di barat laut Campurdarat, dekat Tulungagung,
Jawa Timur.



b. Manusia Liang Bua

Pengumuman tentang penemuan manusia Homo floresiensis tahun 2004
menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Sisa-sisa manusia ditemukan di
sebuah gua Liang Bua oleh tim peneliti gabungan Indonesia dan Australia.
Sebuah gua permukiman prasejarah di Flores. Liang Bua bila diartikan
secara harfiah merupakan sebuah gua yang dingin. Sebuah gua yang sangat
lebar dan tinggi dengan permukaan tanah yang datar, merupakan tempat
bermukim yang nyaman bagi manusia pada masa praaksara. Hal itu bisa
dilihat dari kondisi lingkungan sekitar gua yang sangat indah.